Setiap angkatan mahasiswa baru diharuskan membuat acara inaugurasi. Itu merupakan salah satu tradisi di Teknik Elektromedik (TEM) Poltekkes Jakarta II. Inaugurasi ini seperti layaknya Pentas Seni, namun ada hal-hal yang bisa dikatakan penindasan bagi kami yang membuat acara tersebut. Inaugurasi angkatan 2009 diadakan pada 16 Januari 2010. Acara ini telah disusun dan dirancang sejak awal kami mulai perkuliahan. Proses pembuatan acara ini, kami dibimbing oleh senior angkatan 2007 angkatan yang mengospek kami. Target acara ini adalah para senior dan juga para alumni.
Tidak ada kurucan dana sama sekali dari pendidikan, sehingga kami harus memutar otak untuk mendapatkan dana. Apalagi kami berusaha untuk tidak mencari sponsor, menurut pembimbing kami, ini merupakan acara kita sendiri, jadi usahakan jangan mencari dana dari sponsor. Dengan terpaksa kami menarik uang dari kantong pribadi masing-masing dengan jumlah yang cukup besar. 14 juta lebih uang yang harus kami kumpulkan. Jumlah yang menurut saya sangat besar jika kami harus urunan. Tapi itulah yang harus terjadi jika ingin inaugurasi berlangsung, atau jika gagal kami akan di ospek ulang seperti yang terjadi pada angkatan 2008 yang harus pulang pagi hari akibat ospek ulang setelah acara inaugurasi selesai.
Kami mengadakan acara ini di auditorium jurusan gizi, yang letaknya tidak jauh dari kampus kami. Acara formal dimulai pukul 10.00, namun karena undangan baru datang pada sekitar pukul 10.30 kami pun menyesuaikannya. Setelah acara formal selesai, barulah acara non formal berlangsung yaitu acara band-band yang efektif sekitar ba’da dzuhur. Di sinilah para senior dan alumni mulai berdatangan. Band-band pengisi acara kebanyakan dari angkatan 2007 dan 2008.
Saya heran dengan suasana yang kondusif saat itu, sebab dari cerita-cerita yang saya dengar, inaugurasi itu adalah konser brutal yang sengaja dilakukan oleh senior kepada mahasiswa barunya. Mereka bisa sampai merusak alat-alat musik, sound system, ada juga yang melempar-lempar bangku, memecahkan kaca ruangan, snack yang telah kami siapkan pun bisa menjadi senjata bagi mereka untuk menghancurkan acara tersebut. Sekitar pukul 2 sore, ada seorang dosen yang keluar dari ruang auditorium, tempat acara ini berlangsung. Serentak semua peserta acara yang berada di ruangan itu bertepuk tangan, setelah itu lampu dimatikan satu persatu hingga menyisakan lampu panggung, entah oleh siapa. Dan, keonaran pun mulai berlangsung.
Saya benar-benar tidak menyadari, suasana kondusif tersebut dikarenakan ada salah seorang dosen yang masih berada di dalam ruangan. Beberapa peserta yang tadinya duduk menyaksikkan konser ini langsung berdiri dan mendekati panggung acara. Kami panitia pun serentak menjaga dengan membuat pagar betis agar para peserta tidak menghancurkan peralatan acara. Kami membuat beberapa lapis pagar betis. Tangan-tangan kami bertolak pinggang dan melilitkan dengan yang lainnya. Kami berdempet-dempetan untuk menguatkan posisi kami. Keadaan yang sungguh mengecam ketika para peserta menari-nari sambil menabrakkan badannya kepada kami. Dengan sengaja mereka menabrakkan tubuhnya. Ada yang sambil berlari dari jauh, kemudian loncat dan menabrakkan punggungnya dengan kepala kami. Ada yang sambil menyikut, memukul, menendang, jika kami melawan, mereka langsung mengeroyoki kami, ingin menghajar kami. Ketika suasana emosi benar-benar memuncak, senior kami angkatan 2007 melerainya. Membantu kami yang tidak bisa apa-apa di hadapan senior lain. Mereka menolong kami dari pengeroyokan angkatan 2008. Setelah usai melerai, tarian atau tabrak menabrak itu kembali berlangsung lagi. Tarian mereka mengikuti alunan musik yang menggelegar.
Penindasan itu usai ketika ada beberapa teman kami yang jatuh akibat benturan tersebut. Beberapa di antara kami sampai ada yang harus menggunakan bantuan oksigen karena sulit bernafas terkena pukulan. Ada yang matanya memerah terkena lemparan air mineral. Saya pun terkena dengan keras lemparan telur dibagian pelipis mata saya. Bayangkan jika telur itu tepat mengena bola mata saya, entah bagaimana jadinya. Setelah isoma pukul 4 sore, kebrutalan itu terjadi lagi. Kami sungguh tidak berdaya. Almamater yang kami kanakan robek, kancing-kancing hilang, tubuh kami gemetar akibat kelelahan pemukulan pada pengeroyokan babak pertama. Kali ini emosi benar-benar sudah tidak terkontrol, serung sekali terjadi kegaduhan untuk melakukan pengeroyokan pada kami. Dan lagi-lagi 2007 turun untuk melerainya. Inaugurasi 2009 masih terbilang lebih damai dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, karena ada beberapa dosen yang mengontrolnya.
Inilah salah satu tradisi bagi mahasiswa baru TEM. Sebuah tradisi yang ironis bagi generasi terpelajar. Mungkin inilah yang terjadi kesenjangan antara tahun ganjil dan genap. Inaugurasi 09 di kacaukan sebagian besar oleh 08 dan 07 membantu melerainya. Saya khawatir perasaan dendam teman-teman saya akan sampai pada inaugurasi 2010 yang jika terjadi akan berdampak serupa. Mungkin bagi saya ini bisa menjadi motivasi bagi untuk lebih menghargai orang yang lebih tua. Tapi bagaimana dengan 09 lainnya. Ini bisa menjadi tradisi balas dendam. Tradisi buruk yang bukannya mendidik, tetapi malah jadi ajang peloncoan bagi juniornya.
Baca selengkapnya »»